Lebaran Spesial
Lebaran tahun ini terasa lebih spesial karena kabar yang selalu kutunggu akhirnya datang juga. Sudah lima tahun nenek bekerja di Singapura. Setiap lebaran, kami hanya bisa melihat wajahnya melalui layar ponsel dan menahan rindu yang makin menumpuk dari tahun ke tahun. Tapi Ramadhan kali ini membawa kabar bahagia karena nenek akan pulang untuk lebaran. Sore itu, aku ikut menjemput ke bandara. Udara terasa hangat, matahari mulai condong ke barat tanda waktu berbuka hampir tiba. Meski tubuh lemas karena berpuasa, semangatku justru bertambah. Di pintu kedatangan, aku berdiri menunggu, sesekali mengintip ke dalam, mencari sosok yang sangat kurindukan. Tak lama, nenek muncul di antara kerumunan. Langkahnya tenang, membawa koper besar berwarna hitam. Wajahnya tampak lelah. Aku segera menghampirinya dan mengulurkan tangan.
Dalam perjalanan pulang, kami banyak bercerita. Tentang perjalanannya, tentang kehidupan di Singapura, dan betapa ia merindukan rumah, makanan khas lebaran, dan suara azan dari musholla kecil di samping rumah. Sesampainya di rumah, suasananya langsung berubah menjadi lebih hangat. Menjelang lebaran, kami mulai sibuk menyiapkan ketupat, lepat, dan lontong, lengkap dengan lauk khasnya yaitu rendang dan opor ayam. Dapur dipenuhi aroma rempah, tawa, dan cerita yang terus mengalir.
Malam takbiran tiba. Suara takbir menggema dari masjid dan musholla sekitar. Kami duduk di ruang tengah, mempersiapkan hidangan lebaran sambil saling bercanda. Suasana seperti ini sudah lama kami rindukan. Malam itu juga, kami bersama-sama menunaikan zakat fitrah. Kami kumpulkan beras dari tiap anggota keluarga, lalu menyerahkannya ke panitia zakat di musholla. Rasanya damai, ada kebahagiaan tersendiri saat bisa berbagi dan menjalankan kewajiban bersama keluarga lengkap. Pagi lebaran, kami sholat Eid bersama di masjid. Setelah itu, bersalaman dengan tetangga, saling meminta maaf dan bertukar senyum. Banyak yang senang melihat nenek kembali.
“Mbah Is, alhamdulillah, pulang juga akhirnya,” sapa beberapa warga dengan
hangat.
Hari itu,
kami juga bersilaturahmi ke rumah saudara-saudara. Nenek jadi pusat perhatian.
Semua rindu, semua ingin bercerita. Tapi bagiku, lebaran kali ini tak hanya
soal baju baru atau makanan enak. Ini tentang kebersamaan yang akhirnya kembali
utuh.
Dan saat
itu aku sadar, lebaran bukan sekedar penanda kemenangan setelah sebulan
berpuasa. Tapi juga tentang kebahagiaan karena berkumpul dengan keluarga.
Komentar
Posting Komentar